Pendidikan Agama Islam dalam Kacamata Teori Kognitif Piaget

Pendahuluan Riset neurosains terbaru menyatakan bahwa ketika anak dilahirkan, sel-sel otak bayi berjumlah sekitar 100 miliar. Namun hanya sedikit yang saling terkoneksi. Koneksi ini hanya terbatas pada sel-sel otak yang mengendalikan kerja organ-organ vital manusia. Saat seseorang anak memasuki usia 3 tahun, sel-sel otaknya telah membentuk sekitar 1000 Triliun jaringan koneksi atau sinapsis. Jumlah ini dua kali lebih besar dari yang dimiliki otak orang dewasa. sinapsis yang jarang digunakan akan mati dan yang sering dipakai akan semakin kuat dan permanen(Suyadi, 2013). Berdasar pada acuan tersebut maka menarik untuk dibahas terkait pembelajaran khususnya dalam pendidikan agama Islam mengacu pada teori kognitif. Istilah kognitif berasal dari kata cognition yang bermakna pengenalan, kesadaran, pengertian dan merupakan konsep umum yang membahas aktivitas-aktivitas seperti berpikir, memahami dan meneladani.(Reber & Reber, 2010). hal itu dapat dimaknai sebagai proses psikologis yang melibatkan langkah dalam memperoleh, menyusun dan menggunakan pengetahuan. Secara umum konsep perkembangan kognitif dapat dimaknai sebagai rancangan atau gambaran yang menggunakan simbol-simbol untuk melihat pola perubahan dari proses-proses psikologis yang terlibat dalam memperoleh, menyusun dan menggunakan pengetahuan. Dalam konteks pendidikan Islam, konsep pendidikan itu harus bersifat holistik yakni mencakup aspek spiritual, moral sosial kognitif dan fisik. Pendidikan Islam tidak hanya dibatasi dalam level taqarrub ilallah namun juga pengembangan potensi jasmani dan rohani. Peserta didik dipandang sebagai pribadi yang lahir dengan Segala potensi yang dimiliki. Peserta didik memiliki kecenderungan Fitrah ke arah baik dan buruk sehingga sangat membutuhkan pendidikan. Adapun materi pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan periodisasi anak didik. Dalam pembelajaran yang diberikan dalam kerangka Islam harus dalam kerangka pembelajaran yang dilakukan sumur hidup mencari ridho Allah konsentrasi dalam belajar dan menyucikan jiwa dalam proses pembelajaran. Dalam konteks pengajaran guru berfungsi sebagai teladan, motivator pembimbing, dan mengajar dengan penuh kasih sayang(Ad, 2018). Teori Kognitif Piaget teori Piaget sering disebut sebagai epistemologi genetik intelektual(Thobroni, 2011). Hal ini dikarenakan teorinya mengarah pada pelacakan perkembangan kemampuan epistemologi. Intelegensi dalam pandangan Piaget ialah ciri bawaan yang bersifat dinamis. Kata genetik ini mengacu pada pertumbuhan bukan warisan biologis. Dalam pengertian lain proses genetik dimaknai sebuah proses yang didasarkan atas mekanisme biologis dalam bentuk perkembangan sistem saraf. Semakin bertambah umur seseorang, diasumsikan semakin Kompleks susunan sel saraf nya dan semakin meningkat pula kemampuannya. Semakin bertambah usia maka tindakan yang dilakukan akan semakin cerdas karena organisme semakin matang secara biologis dan pengalaman-pengalaman yang dialaminya. Skemata merupakan istilah kunci dan penting dalam teori Piaget(Ridhoi, 2017). Skema sering kali dianggap sebagai elemen dalam struktur kognitif organisme. Skema dalam organisme sebagai penentu respons organisme terhadap lingkungannya. Skema adalah potensi untuk bertindak dengan langkah tertentu. Misalnya skema memegang adalah kemampuan umum untuk memegang sesuatu. Skema lebih besar dari sekedar manifestasi refleksi memegang saja. Skema memegang ini dapat dianggap sebagai struktur kognitif yang membuat semua tindakan memegang bisa dimungkinkan. Dalam sebuah tindakan memegang tertentu akan diamati dan dijabarkan, maka seseorang harus berbicara dalam respons spesifik terhadap stimuli spesifik. Aspek manifestasi partikular dari skema dinamakan isi atau content. Skema merupakan potensi umum untuk melakukan satu kelompok perilaku dan isi mendeskripsikan kondisi-kondisi yang berlaku selama terjadi manifestasi potensi umum. Dengan kata lain dalam menghadapi lingkungan yang dinamis, seorang anak akan berubah-ubah seiring dengan pertumbuhannya. dalam struktur pembelajaran Piaget ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan(Ridhoi, 2017). Prinsip pertama yaitu lingkungan belajar harus mendukung aktivitas anak. Seperti kegiatan yang aktif, lingkungan yang berorientasi pada penemuan (scientific). Dalam proses pembelajaran Piaget mendukung hubungan tatap muka (Face to Face) antara guru dan peserta didik. Materi pembelajaran yang tidak dapat diasimilasikan dalam struktur kognitif anak tidak akan bermakna bagi anak. Sehingga dalam konteks ini sistem pembelajaran dengan hafalan menjadi tidak relevan. Jika materi bisa diasimilasikan secara lengkap, maka akan ada proses belajar pada anak. Agar proses belajar terjadi materi yang diajarkan perlu sebagian sudah diketahui atau pernah dipelajari dan sebagian belum. Materi yang telah diketahui atau dipelajari diolah dengan cara asimilasi, dan bagian yang belum diketahui akan menimbulkan modifikasi si dalam struktur kognitif anak. Modifikasi ini dapat dimaknai sebagai akomodasi. Yaitu memersepsikan = belajar. Untuk menciptakan struktur kognitif yang optimal, karakteristik terpenting dari setiap operasi ialah dapat dibalikkan. Maksudnya reversibility ini menunjukkan bahwa setelah sesuatu dipikirkan dan Ia lalu dapat tidak dipikirkan. Suatu operasi setelah dilakukan dapat ditinggalkan secara mental. Proses asimilasi dan akomodasi ini memicu pertumbuhan intelektual. Karena berbedanya cara berpikir antara anak dan orang dewasa, maka guru harus mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak. Guru harus memahami level atau tingkatan fungsi struktur kognitif siswa. Dalam prinsip yang kedua yaitu interaksi anak dengan teman-temannya merupakan sumber penting dalam perkembangan kognitif Piaget menjelaskan pengalaman pendidikan Harus dibangun disebut struktur kognitif individu yang belajar. Anak-anak berusia sama dan dari kultur yang sama memiliki kecenderungan kognitif yang sama. Meskipun demikian ada beberapa perbedaan struktur kognitif antara satu anak dengan anak yang lainnya. Untuk itu maka Jenis materi belajar berbeda pula. prinsip yang ketiga ialah mengadopsi strategi pembelajaran membuat anak menyadari adanya konflik atau kontradiksi maupun ketidak konsistenan dalam pemikiran mereka(Gredler, 1991). Piaget membagi perkembangan anak dari lahir hingga dewasa dibagi menjadi empat tahap yaitu tahap pertama tahap sensorimotor yang terjadi di ketika anak lahir sampai berusia 2 tahun. Tahap kedua yaitu tahap pra operasi pada umur 2 sampai 7 tahun. Kemudian pada tahap operasi konkrit pada umur 7 sampai 11 tahun dan tahap keempat yaitu operasi formal setelah 11 tahun ke atas. Perkembangan tersebut berurutan karena setiap tahap memerlukan tahap yang sebelumnya. Awal dan perkembangan tahap tersebut tentu dimungkinkan berbeda untuk setiap pribadi(Suparno, 2001). Dalam konteks pembelajaran kognitivisme lebih ditekankan pada the best proses bukan the best input(Chatib, 2009). Setiap manusia terlahir ke dunia dalam keadaan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Belajar adalah perubahan persepsi atau pemahaman. Dalam proses pembelajaran titik Paling dominan adalah terbentuknya struktur kognitif sebagai upaya memecahkan masalah yang didasarkan pada insight. Istilah ini adalah pengetahuan baru yang diperoleh setelah melalui proses pengumpulan informasi, relatif mudah diingat dan mampu dijadikan acuan dalam menyelesaikan persoalan baru. Dengan demikian seorang guru dapat mengajar dengan cara memasuki dunia anak(Nugroho, 2015). Teori Piaget dalam pembelajaran Pendidikan agama Islam dalam pendidikan agama Islam ada empat aspek yang harus diperhatikan yaitu Quran Hadis, Aqidah akhlak Fiqih dan sejarah kebudayaan Islam. Masing-masing mata pelajaran tersebut saling terkait dan mengisi serta melengkapi satu sama lain. Pendidikan agama Islam yang terdiri dari 4 unsur tersebut tentu memiliki karakteristiknya masing-masing. pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan pendekatan saintifik (dalam konteks ini ialah kognitivisme) yaitu pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang berbasis pada pembelajaran berbasis fakta atau fenomena yang dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. Penalaran ini bukan hanya sekedar kira-kira, khayalan, Legenda maupun dongeng Semata. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ini mendorong dan menginspirasi sistem berpikir peserta didik yang kritis analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah Wah dan mengaplikasikan materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam(Ridhoi, 2017). Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ini tentu harus berbasis pada konsep, teori dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara jelas dan sederhana. Namun disajikan dalam bentuk yang menarik. misalnya dalam materi bahasa Arab atau Alquran guru perlu menyesuaikan secara tepat sesuai kemampuan siswa menggunakan alat permainan edukatif hijaiyah. Hal ini untuk mengenalkan macam-macam huruf hijaiyah. Selain itu, model penyusunan materi agama didasarkan pada pola dan logika tertentu agar lebih mudah dipahami. Penyusunan materi pelajaran alquran misalnya harus dibuat bertahap dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Dalam proses pembelajaran sebisa mungkin tidak hanya berfokus pada hafalan, namun Mun anak harus dilibatkan dalam proses untuk memahami lebih jauh tentang apa yang sedang ia pelajari, di samping guru memahami gaya belajar anak. Dalam pembelajaran tauhid misalnya anak diajak untuk mengamati dan mengomentari serta menyimpulkan apa saja ciptaan Allah SWT. Pengajaran menggunakan hal yang sifatnya kebendaan seperti gunung, langit, bulan, bintang dan berbagai macam hewan dan tumbuhan. Kesimpulan dari hasil Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran yang berbasis pada teori kognitif Piaget dalam pengaplikasiannya lebih memusatkan pada perhatian cara berpikir dan proses mental anak. Guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada hasil yang diinginkan. Pengalaman-pengalaman belajar yang dikembangkan disesuaikan dengan tahap kognitif perkembangan anak. Untuk itu diutamakan peran siswa yang aktif dan berinisiasi sendiri dalam keterlibatan pembelajarannya. Guru maupun siswa harus memahami adanya perbedaan individu Dalam hal kemajuan perkembangan kognitif. Untuk itu maka siswa harus saling berinteraksi, bertukar ide atau gagasan untuk perkembangan penalaran didik Daftar Pustaka Ad, Y. (2018). Konsep Perkembangan Kognitif Perspektif Al-Ghazali Dan Jean Piaget. KONSELI : Jurnal Bimbingan Dan Konseling (E-Journal), 5(2), 97–104. https://doi.org/10.24042/kons.v5i2.3501 Chatib, M. (2009). Sekolahnya manusia: Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia. Kaifa. Gredler, M. E. B. (1991). Belajar dan Membelajarkan. Rajawali. Nugroho, P. (2015). Pandangan Kognitifisme dan Aplikasinya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Anak Usia Dini. ThufuLA: Jurnal Inovasi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal, 3(2), 281–304. https://doi.org/10.21043/thufula.v3i2.4734 Reber, A. S., & Reber, E. S. (2010). Kamus psikologi. Pustaka Pelajar. Ridhoi, M. (2017). Pendekatan Saintifik Pembelajaran PAI Perspektif Jean Peaget. AL - IBRAH, 2(1), 140–164. Suparno, P. (2001). Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. kanisius. Suyadi. (2013). Konsep dasar PAUD. Thobroni, M. (2011). Belajar & pembelajaran: Pengembangan wacana dan praktik pembelajaran dalam pembangunan nasional. Ar-Ruzz Media.

Komentar

Posting Komentar