Kritisisme Immanuel Kant: Membangun Meta Teori Ilmu Pengetahuan

Secara lebih luas karya Immanuel kant didasarkan pada tiga pertanyaan besar: apa yang bisa saya ketahui? Apa yang harus saya lakukan ?, dan Apa yang bisa saya harapkan?. Immanuel kant mencoba menjawab pertanyaan pertama dengan menulis buku critique of pure reason. Untuk pertanyaan kedua menulis buku critique of practical reason. Untuk pertanyaan ketiga ia menulis buku Critique of Judgment. Immanuel kant mencoba untuk membangun sintesis pengetahuan baru yang berbeda dari pemikir-pemikir sebelumnya. Tidak seperti di era abad pertengahan di mana basis epistemologis pengetahuan ialah metafisik. Immanuel kant memiliki keinginan untuk membalik kecenderungan filsafat modern. Selain itu Immanuel kant mencoba mempertanyakan validitas Pengetahuan yang dimiliki oleh para filosof sebelumnya baik kalangan rasionalisme maupun empirisme. Disitulah Immanuel kant ingin mencoba memeriksa operasi dari proses berpengetahuan filosof sebelumnya dan menentukan batas-batas akal. Para pemikir sebelum Immanuel kant menekankan pada pengetahuan tentang objek-objek dunia luar. Namun Immanuel kant dalam pembahasannya lebih menekankan pada kognisi dan bagaimana sebuah objek ditentukan oleh pemahaman yang kita miliki. Immanuel kant menekankan Apabila kita ingin memahami sifat alam, maka kita harus melihat pikiran manusia. Meskipun demikian harus disadari bahwa pikiran manusia memiliki keterbatasan. Pikiran manusia memang tidak dapat menyediakan pengalaman (karena yang mengadakan Pengalaman adalah indrawi). Namun pikiran manusia dapat menyediakan konten pengalaman. Pikiran manusia dapat memberikan bentuk dari pengalaman yang di indrawi kan. Immanuel kant menyebut pemikirannya sebagai transendental. Hal ini dapat dimaknai bahwa Immanuel kant tidak terlalu peduli dengan fenomena yang ditangkap namun lebih kepada pengetahuan apriori kita tentang fenomena itu. Immanuel kant ingin mengemukakan prinsip apriori yang fundamen dalam proses penyelidikan epistemologis. Teori pengetahuan yang dibangun oleh Immanuel kant didasarkan pada preposisi apriori dan sintetik. Sebelumnya saya akan memberikan penjelasan sedikit tentang empat preposisi yaitu apriori, aposteriori, sintetik dan analitik. Apriori ialah sebuah proposisi dimana pengetahuan yang dibuktikan cukup melalui akal. Preposisi ini independen dari semua pengalaman. Sedangkan preposisi aposteriori adalah pengetahuan dibuktikan melalui Indra atau pengalaman. Menurut Immanuel kant kognisi adalah judgement. judgement dibangun didasarkan pada preposisi, dan di dalam proposisi ada subjek dan ada predikat. Apabila pengetahuan meningkat melalui suatu penilaian dimana ada konsep baru yang tidak terkandung di dalam subjek dan konsep itu muncul di dalam predikat maka itu disebut penilaian sintetis. Apabila pengetahuan yang terkandung di dalam predikat semuanya ada di dalam subjek maka itu disebut penilaian analitik. Dalam penilaian analitik tanpa ada penambahan pengetahuan baru. Immanuel kant mengklaim bahwa pengetahuan dalam bentuk Judgement hanya dapat diperoleh ketika hubungan antara predikat dan subjek nya sintetik. dan pengetahuan ini dari apriori. maka Pertanyaan selanjutnya bagaimana sintetik apriori ini mungkin? Solusi atas pertanyaan tersebut sekaligus dapat menjadi jembatan kemungkinan penggunaan akal murni dalam konstruksi dari semua ilmu yang mengandung pengetahuan apriori. Untuk itu maka sistem pengetahuan yang absolut hanya dapat berdiri di atas dasar penilaian yang sintetik dan pemerolehannya secara independen dari semua pengalaman (apriori ). bagi Immanuel kant sintetik apriori ini fundamental dalam matematika, ilmu fisika dan metafisika. misalnya dalam matematika dikatakan 1 + 1 = 2. dalam struktur berpikir Immanuel kant pemahaman atas 1 + 1 = 2 itu tidak bersifat Analitik. (Menurut saya Immanuel kant adalah pemikir yang berasumsi bahwa pengetahuan manusia sebelumnya adalah kosong. ini mungkin pengaruh atas empirisme terhadapnya.) Pengetahuan atas 1 + 1 = 2 ditambahkan Ke dalam pengalaman manusia. hal ini Dapat dimaknai bahwa ada penambahan pengetahuan predikat terhadap subjek (pengalaman manusia). Sehingga matematika bersifat sintetis Di mana bagi para pemikir sebelumnya matematika ini Bersifat analitik. Mengapa pengetahuan harus terbebas atau independen dari pengalaman ? Bagi Immanuel kant meskipun pengetahuan baru dapat diperoleh dari preposisi sintetik, namun ia tidak dapat menjadi pengetahuan yang benar apabila tidak memiliki validitas universal. Agar sebuah pengetahuan memiliki validitas universal maka pengetahuan itu tidak hanya empiris, namun juga harus memiliki Elemen apriori yang independen dari pengalaman. Immanuel kant mempersepsi kebenaran sebagai sebuah kesepakatan antara pengetahuan dan objek nya. Immanuel kant membangun kategori yang menjadi template dasar pemetaan pengalaman masuk kepada apriori atau rasio. Sebelum membahas tentang kategori yang dibangun oleh Immanuel kant harus dimulai dari pemahaman bahwa ada istilah nomena dan istilah fenomena. Nomena adalah realitas apa adanya. Sedangkan fenomena adalah realitas yang dipahami oleh manusia berdasar pada kacamata yang dimiliki oleh masing-masing manusia. manusia tidak mungkin mengetahui realitas apa adanya (nomena). setiap Pengetahuan yang dimiliki hasil dari penginderaan pasti bersifat fenomena. Pikiran manusia didasarkan pada 12 kategori. 12 kategori yang dibangun oleh Immanuel kant ini menjadi template Bagaimana manusia berfikir. ke-12 kategori ini dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu sebagai berikut: 1. Kuantitas yang terdiri atas kesatuan, pluralitas dan totalitas. 2. Kualitas yang terdiri atas realitas , negatif dan batasan. 3. Hubungan Yang terdiri atas Substansi dan aksiden, Sebab dan akibat, Timbal balik 4. Modalitas yang terdiri atas kemungkinan, keberadaan dan kebutuhan. Immanuel kant memandang ruang dan waktu bersifat apriori. Ruang dan waktu bukanlah pengalaman atau konsep namun Ia adalah murni intuisi. Ruang dan waktu adalah antisipasi dari persepsi dan bukan produk dari abstraksi yang Dilakukan. Mungkin kita bisa memikirkan Waktu tanpa adanya fenomena. namun kita tidak dapat memikirkan fenomena tanpa adanya waktu. Ruang dan waktu bersifat apriori sebagai syarat untuk kemungkinan adanya fenomena. persepsi adalah apriori manusia sebagai bentuk hubungan terhadap pengalaman indrawi. bagi Immanuel kant pengalaman ini hanya mungkin melalui hubungan persepsi. Untuk itu maka Immanuel kant membangun tiga analogi untuk menjelaskan pengalaman ini. Dalam analogi pertama Immanuel kant memberikan ciri-ciri terhadap substansi di mana ia adalah sesuatu yang bisa ada sebagai subjek dan tidak pernah ada sebagai predikat saja. dalam analogi kedua Immanuel kant menjelaskan terkait bahwa semua perubahan terjadi Sesuai dengan hukum sebab-akibat. Dalam Analogi ketiga Immanuel kant menyampaikan prinsip bahwa semua zat sejauh dapat dipersepsikan hidup di dalam ruang maka semuanya akan timbal balik.

Komentar

Posting Komentar