ARKEOLOGI PENGETAHUAN FILSAFAT

Berpikir filosofis merupakan tindakan yang dilakukan oleh manusia yang tidak dapat dilakukan oleh binatang. Berpikir filosofis bermakna kemampuan manusia untuk dapat menangkap pancaran-pancaran pengetahuan yang diberikan oleh Tuhan baik dalam bentuk ayat-ayat yang bersifat naqli seperti firman Tuhan yang disampaikan kepada para Rasul yang menjadi kitab suci maupun ayat-ayat yang bersifat aqli yang berupa hukum-hukum alam yang terjadi di sekitar manusia. perkembangan kemampuan manusia untuk berpikir filosofis ini membentuk manusia menjadi beragam kebudayaan yang luhur dan tinggi. Setidaknya ada 6 kebudayaan besar yang terbentuk dalam sejarah kehidupan manusia. Pertama ialah kebudayaan Yunani, kebudayaan Cina, kebudayaan India, kebudayaan Mesir, kebudayaan Babilonia dan kebudayaan semitik. Kebudayaan-kebudayaan ini saling berhubungan dan berkomunikasi sehingga membentuk peradaban manusia sehingga sekarang. salah satu kebudayaan besar dunia yaitu kebudayaan Yunani yang melahirkan filsafat modern hingga pos modern sekarang. Pertanyaan mendasar yang dilakukan oleh para filosof masa lalu ialah Apakah dunia ini berubah atau tetap. Hasil renungan dari para filosof terbentuk dua aliran besar yang nantinya akan membelah cara berpikir filosofis selanjutnya. bagi Herakleitos kehidupan ini bersifat tidak tetap atau berubah. Dalam bahasa lain dia menggunakan istilah mengalir. Artinya tidak ada satu pun hal di alam semesta ini yang bersifat permanen. Semua dalam proses "menjadi". Pemikiran dia inilah yang nantinya akan mempengaruhi pemikiran-pemikiran selanjutnya misalnya Aristoteles maupun pemikir selanjutnya yang bersifat materialistis. Sedangkan bagi Parmenides kehidupan ini bersifat tetap. Segala hal berasal dari yang ada. misalnya seperti Plato hingga Rene Descartes Meskipun mereka memiliki corak pemikiran filosofis yang berbeda. Dualisme berpikir ini membentuk karakteristik masing-masing yang berbeda dan bertolak belakang. Bagi pemikir yang berdasar pada kehidupan itu tetap maka ia akan mendasarkan dirinya pada aspek spiritualisme yang berakhir pada kuasa Tuhan. Bagi mereka segala hal itu absolut. Sudah ada dunia ide yang menjadi Cahaya Utama bagi kehidupan. manusia sekarang hanyalah bayangan-bayangan yang bergerak dari dunia ide layaknya yang terpancar di dinding gua. Dasar berpikir inilah juga yang mendorong manusia berpikir rasionalisme. Artinya Pengetahuan yang dimiliki manusia sebenarnya sudah ada dalam pikirannya. Sehingga muncul pengetahuan apriori. di mana pengetahuan ada sebelum bertemu dengan pengalaman. Hal ini dapat dimaknai bahwa seseorang mampu berpikir dan memiliki asumsi-asumsi terhadap suatu hal sebelum ia bertemu secara langsung melalui pengalaman indrawi yang akhirnya dari situlah ia dapat mengambil kesimpulan . Bagi kalangan sebelahnya yang berdasar dari pemikiran bahwa dunia ini berubah- ubah menghasilkan pemikiran yang bersifat realisme. Bagi mereka pemikiran atau pengetahuan dibentuk atas persepsi dari hasil pengindraan yang dilakukan oleh manusia. Sehingga pengetahuan hanya akan terbentuk dari proses pengalaman yang empiris yang dilalui oleh manusia. Bagi mereka A tidak sama dengan A. Ini artinya kehidupan ini terus berubah. Suatu benda atau hal di kondisi tertentu merupakan suatu hal yang lain di kondisi yang lain pula. Hal ini dipengaruhi oleh gerak atau perpindahan dari satu makna ke makna yang lain. Berdasar dari pergulatan ke doa corak aliran pemikiran yang berbeda dan berlawanan itu, muncul seorang tokoh bernama Immanuel kant yang mencoba mendamaikan aliran besar rasionalisme dan empirisme. Corak pemikiran Immanuel kant ini banyak orang memberi nama kritisisme. bagi Immanuel kant proses mendapatkan ilmu pengetahuan tentu melalui kedua corak pemikiran sebelumnya itu. Dalam mendapatkan pengetahuan kita butuh pengetahuan yang bersifat apriori dan pengetahuan yang bersifat A posteriori. Immanuel kant merupakan salah satu " ini nanti yang akan mempengaruhi perkembangan filsafat ilmu ke depan.

Komentar

Posting Komentar